Bintang itu tiba-tiba muncul begitu saja dihadapanku. Memamerkan cahayanya dan tersenyum menyapa. Padahal, selama setahun belakangan, aku selalu memandang langit, namun tak pernah menemukan bintang itu.
Darimana datangnya? Aku pun tak tahu. Karena dia selalu bersikukuh telah ada disana sejak lama. Namun aku juga yakin tak pernah menemukannya disetiap malam-malam yang kuhabiskan untuk menemukan cinta di langitku.
Sampai pada akhirnya, bintang itu berhasil meyakinkanku bahwa dia memang ada disana selalu, dan aku yang luput memperhatikannya. Dia meyakinkanku bahwa aku selalu memandangnya, namun tak pernah benar-benar seksama melihatnya. Benarkah? Aku sendiri tak yakin. Namun aku pun tak bisa menampik bahwa dia adalah bintang terindah yang pernah kulihat. Dia bersinar lebih terang dan memaksa orang untuk memuji keindahannya. Dia bercahaya lebih memukau daripada bintang disekitarnya. Tapi, ah tidak juga!! Dia bersinar biasa saja, namun entah kenapa mataku menangkap lain. Ada yang berbeda dengan ’bintangku’ itu.
Kusebut dia ’bintangku’, karena ternyata tanpa sadar aku selalu mengabadikan setiap waktu yang kulewatkan untuk memandanginya. Dan tanpa sadar pula aku selalu seksama memperhatikan setiap rasi bintang yang dibentuknya. Aku jadi ingat dimana posisinya saat waktu-waktu tertentu dan pola-pola yang ia bentuk dengan bintang lainnya. Selain itu, ’bintangku’ juga pernah menyatakan bahwa ia selalu bahagia kutemani setiap malam datang, karena selama ini ia merasa sendirian, dan kasihku padanya membuat ia kembali tersenyum. Itulah yang membuatku selalu berharap agar matahari lupa akan tugasnya dan membiarkanku terus bersama ’bintangku’.
Namun pada suatu ketika, aku heran saat menemukan ’bintangku’ tak lagi membentuk pola rasi bintang yang seharusnya. Saat kutanya mengapa, ’bintangku’ hanya menggeleng dan meyakinkanku bahwa aku salah mengamatinya.
Ia bersikeras meyakinkanku, sambil memelukku dalam cahayanya yang mematikan semua keraguan dan kecurigaanku akan kesetiannya.
Aku bertanya kepada bintang-bintang yang lain, kemana ’bintangku’? Masihkah dia menjaga cahayanya hanya untukku? Cahaya yang membuatku selalu bersemangat menyambut malam tiba, karena aku akan bertemu dengan ’bintangku’.
Mereka menunjuk suatu arah, dan aku membaca arah itu dengan degup kencang. Aku tak berani memikirkan atau memperkirakan setiap kemungkinan yang akan terbaca nantinya. Dan aku tak mampu berkata saat arah itu terbaca dengan jelas, bahwa ’bintangku’ sedang dipandangi oleh yang lain, yang bukan aku. Dan ’bintangku’ ternyata dipandangi oleh MATAHARI!!
Tapi aku juga sungguh-sungguh ketakutan, ’bintangku’ akan terlukai oleh panasnya Matahari. Namun ternyata ’bintangku’ sedang berdampingan mesra dengan Matahari. Dan matahari juga sedang memandang ’bintangku’ dengan terpukau, seperti aku dulu pernah terpedaya olehnya.
Hahahaha, aku hanya bisa tertawa saja saat menyadarinya. Bagaimana tidak? bintangku’ telah menemukan matahari dan meninggalkanku tanpa kata-kata. Sungguh hebatnya dia, dan sungguh bodohnya aku. Dan tiba-tiba aku menjadi sangat benci pada ’bintangku’, karena dia sudah terjerat matahari. Aku benci!!!! Dan meneteskan air mata yang selama beberapa waktu tak pernah lagi keluar karena selalu merasa bahagia oleh ’bintangku’.
Aku tak yakin Matahari akan mencintai ’bintangku’ sebaik dan sedalam yang bisa kulakukan. Egoiskah aku? Tentu saja tidak, buktinya sekarang aku masih diam ditempat yang sama dan menjaga ’bintangku’ seperti dulu. Bedanya, dulu aku menjaga ’bintangku’ yang kesepian dan sendiri, sekarang aku menjaga ’bintangku’ yang ’bukan bintangku’ lagi.
Tak apa, asal dia terlindungi dan bahagia.
Lalu, siapakah sebenarnya aku?
Aku bintang? Aku bulan? Aku langit? Atau yang lain?
Aku hanya aku, yang dengan bodohnya menjaga bintang yang ’bukan bintangku’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar